Minggu, 26 Juli 2015

perasaan hari esok bagi generasi 97

bagi sebagian anak sekolah sd, smp, sma esok hari adalah awal menyebalkan karena harus berakhirnya liburan sekolah mereka yang sebelumnya dinikmati dengan happy, seru-seruan menghabiskan waktu bersama teman, keluarga dan kerabat terdekat lainnya. tapi menurut sebagian lagi esok hari adalah hari paling ditunggu-tunggu dan akan menjadi hari yang menyenangkan karena besok kembali bersekolah lagi, bertemu teman-teman lagi yang sudah cukup lama tidak bertatap muka, dan nanti bisa main bareng lagi, gila-gilaan lagi, ngabisin waktu disekolah lagi lalu tidak terkecuali pakai baju seragam lagi yang selama ini sudah cukup lama hanya menggantung disebuah lemari.
namun bagi generasi usia 18 tahun yang dua bulan lalu sudah dilepas oleh sekolahnya masing-masing, esok hari adalah hari awal masuk sekolah yang tidak akan pernah dirasakannya lagi, tidak akan pernah dikenal lagi, esok hari adalah hari yang asing bagi mereka.
disaat semuanya bergegas mempersiapkan segala kebutuhan sekolah besok dan berencana menampilkan penampilan terbaik untuk masuk sekolah di awal tahun ajaran baru ini, mereka yang baru baru ini dianggap sudah bukan lagi anak sekolah hanya bisa mengenang dan mengingat beberapa tahun ke belakang bahwa mereka juga pernah mengalami perasaan seperti itu, mereka juga pernah mendadak ingin beli tas baru, sepatu baru, gaya rambut baru untuk bisa tampil beda..mereka juga pernah seperti kalian ini. disaat seragam rapih menyambut upacara pagi, mereka juga pernah berdiri menatap merah putih.
bagi mereka generasi 97 yang baru baru ini sudah dicap sebagai alumni, mereka akan sangat merindukan awal masuk sekolah tahun ajaran baru seperti ini, mereka akan sangat menyayangkan betapa masa sekolah mereka berakhir begitu cepat, mereka akan rindu berdiri dilapang saat merah putih ditatapnya. mereka kembali tersadar bahwa masa-masa sma mereka sudah benar-benar habis.
bagi mereka generasi 97 yang menerbangkan sayapnya menuju perguruan tinggi pun akan tidak mengenal hari esok, masih ada beberapa hari lagi untuk menyambut awal masuk sekolah tahun ajaran baru versi mereka, tentu dengan perasaan yang berbeda, sangat berbeda, lebih misterius, lebih menantang, hingga akhirnya berkenalan dengan kehidupan yang sebenarnya.
bagi mereka generasi 97 yang melangkah kan jalan suksesnya ke dunia kerja pun sama, hari esok adalah hari senin biasa, awal masuk tahun ajaran baru yang mungkin mereka sudah melupakannya, sebab fokusnya asik menikmati dunia kerja yang baru baginya. esok hari akan menjadi hari yang mengaharukan, hatinya berbisik. "kami juga pernah seperti kalian, menikmati perasaan itu, perasaaan anak sekolah" atau bisa juga diam lalu mengenang, melakukan perjalanan mundur ke masa lalu dimana mereka benar-benar masih anak sekolah, saat masa remaja, masa yang indah, penuh cerita, penuh janji. lalu pudar, semua bayangan indah itu lenyap, dan kembali tersadar, part terbaik saat sma sudah benar-benar tiada~

Sabtu, 14 Desember 2013

You Are The Apple of My Eyes





Haii sobat Ini adalah cerita tentang masa-masa SMA yang kebanyakan orang beranggapan sebagai masa yang paling menyenangkan dalam perjalanan hidup kita. Termasuk cerita dibalik setiap buku catatan dan lembar ujian. Tetapi SMA bukan sekedar belajar dan ujian, SMA adalah cinta dan persahabatan. Cinta bisa datang kepada siapa saja dan dimana saja.
Ini adalah sebuah semi autobiografi yang diangkat dari cerita masa remaja Giddens Ko yang lalu dijadikannya novel berjudul The Girl We Chased Together in Those Years hingga kemudian ia nekad menjadikannya sebuah film layar lebar pertamanya. Memang secara cerita tentang anak laki-laki bertemu dengan anak perempuan dengan setting SMA memang sudah terlalu familiar, tapi mengingat ini bersetting di taiwan yang notabene budaya dan pergaulan remajanya tidak berbeda terlalu jauh dengan kita. You Are The Apple of My Eyes menjadi terasa akrab untuk saya atau siapa saja yang pernah merasakan manisnya masa-masa SMA itu.
Ceritanya ada 5 orang sahabat, Ko-Ching Teng, Hsu Bo Chun (Bo-Chi), Lau Tsau (Tsao Kuo-Sheng), A Ho dan Liao Ying Hung yang menyukai seorang gadis paling pintar dikelas, Shen Chia-Yi. Tapi Shen Chia-Yi lebih tertarik pada Ko Teng yang terkenal bodoh dan malas itu. 


Ko-Ching Teng, adalah seorang pelajar high school, dengan kelakuan yang jauh dari standar dari proses menuju dewasa. Berjiwa bebas, childish, bertindak sesukanya, bahkan lebih suka telanjang tanpa sehelai benang ketika ia beraktivitas dirumah. Ya, Ching Teng mungkin adalah standar bagi siswa bandel ditahun 1994, ditambah lagi prestasi  akademisnya yang sangat jelek akibat keputusan anehnya yang tidak mau belajar karena beralasan tidak ingin lebih hebat dari siswa terpintar disekolahnya.
Wanita itu adalah Shen Chia-Yi, siswa manis pujaan hati sebetulnya dari Ching Teng yang telah berteman dengannya sejak high school, pelajar teladan yang selalu mengisi waktu luangnya dengan belajar dan belajar, perempuan yang dewasa dari cara berpikir maupun bertindak. Suatu ketika Chia Yi mendapatkan sebuah tugas yang tidak menyenangkan, dimana ia diminta oleh kepala sekolahnya untuk mengawasi Ching Teng (yang dihukum akibat tindakan bodoh, yaitu masturbasi dikelas).
Shen Chia-Yi bersikap serius dan memaksa Ko Ching Teng mematuhi semua tugas dan aturannya, tapi perlahan justru terjebak dalam permainan asmara. Walau sering bertengkar tetapi bertengkarnya mereka itu ke arah yang bagus, mereka bertengkar bukan cari masalah tapi malah memecahkan masalah dan mendiskusikan banyak hal. Clearly karena perbedaan sifat, cara mereka memandang hal-hal didunia ini jelas berbeda. Disitulah yang menjadi titik ‘pemecahan masalah’ mereka.  You Are The Apple of My Eyes adalah film yang memuaskan. Memang sebuah paket yang tidak megah, aman dan cukup standar, namun menyaksikan film ini seperti membawa saya atau penikmat film kembali kesalah satu masa indah itu, berkat tampilan jujur dan bebas yang dihadirkan Giddens Ko. Kisah cintanya mempesona, cerita persahabatan juga menyentuh, dan humor yang diberikan juga tepat sasaran.
Lalu disini saya akan menceritakan ulang cerita itu kedalam blog saya secara detail dan terstruktur yang insya Allah akan jelas memaksa kalian untuk memutar pikiran kalian kembali ke masa-masa SMA :D haha jadi seperti ini ceritanya, selamat menyimak J
“setiap lelaki ingin menjadi yang terkuat di dunia ini, aku juga tidak terkecuali” kata-kata itu yang keluar dari mulut Ko-Teng dalam ceritanya Ko-Teng pun berusaha keras untuk menjadi yang terbaik di dunia ini. akan tetapi dia malas belajar sampai akhirnya  “jika kita mencari sesuatu untuk dikerjakan, tentunya tidak akan terlalu bosan” dikerjakan hal apa? Ternyata dia dan temanya Hsu Bo Chun malah onani dikelas, lalu salah satu temannya yaitu Tsau Kuo-Sheng yang menjadi juri dalam perlombaan onani itupun menjepret dengan karet ke arah alat vital Hsu Bo Chun dan dia pun berteriak, hingga akhirnya terdengar oleh ibu guru yang sedang mengajar, Hsu Bo Chun disuruh membaca sampai mana dia tidak menyimak tapi si Ko-Teng malah ketawa-ketawa dan dia juga yang kena, Ko-Teng juga disuruh berdiri dan membaca apa yang sudah dia simak, dia menolak, lalu si guru memarahinya untuk berdiri dan dia berdiri, taratttttttt, celananya dalam keadaan parah, alat kemaluannya terlihat. Haha emang parah si Ko-Teng dia juga kan berpendapat bahwa menunjukan sisi terbodoh dalam diri kita juga merupakan salah satu cara untuk mengejar wanita
Mereka berdua dihukum, dan Shen Chia-Yi mendapat tugas yang tidak mengenakan dari kepala sekolahnya, agar Ko Teng ditempatkan duduk didepannya, dan dia diminta mengawasinya dan bantu Ko-Teng dalam belajar. Setelah itu akhirnya Ko-Teng pindah tempat duduk didepan Shen-Chia Yi. (ada percakapan lucu disini loh gan).

Ko-Ching Teng :          dipindah ke tempat seperti ini, sial, sial
Shen Chia Yi:              yang sial sebenarnya siapa ? duduk didepanku, jangan melakukan perbuatan kekanak-kanakan lagi. Merepotkanku.
Ko-Ching Teng :          jadi murid teladan emang enak, asalkan nilai bagus, bisa seenaknya protes orang
Shen Chia Yi:              siapa juga yang ingin mempedulikanmu
Ko-Ching Teng :          iya deh kamu hebat, kamu pintar

Keesokan harinya.
Dipagi hari yang cerah, ada awan gelap yang menghujani siswa-siswi dikelas itu, itu karena dipagi hari ini mereka harus sarapan pelajaran bahasa Inggris yang gurunya terkenal galak, Ko-Teng pun mengatakan dalam suaranya, “guru yang menstruasinya sedang parah”. Semua terlihat tegang. Si Ibu guru itu melihat dengan tatapan yang tajam, tatapan yang sedang ingin memakan makanan yang ada didepannya. Lalu ibu itu berkata “yang tidak membawa buku bahasa inggris harap berdiri” dan Shen-Chia Yi disitu terlihat bingung mencari-cari bukunya, dia terlihat panik dan wah kayanya dia ga bawa bukunya.
“Awalnya aku pikir, jika suatu hari bisa melihat murid teladan seperti Shen Chia-Yi berbuat kesalahan memalukan dikelas, tentu adalah hiburan terbesar disekolah” maksudku “awalnya”
Pada saat Shen Chia-Yi akan berdiri, tiba-tiba dari depan Ko-Ching Teng memberikan bukunya ke meja dibelakangnya, yaitu meja Shen Chia-Yi, lalu dia berdiri. Ko-Teng dimarahi Oleh si ibu gurunya dia diminta mengangkat bangku.

(gambar pada saat memberikan buku miliknya kepada Shen Chia-Yi dan dia rela dihukum)
Dan lagi-lagi Ko-Teng terkena marah serta hukuman. Ada yang menarik disini, saat Shen Chia-Yi belajar dengan buku itu wajahnya terlihat penuh kesalahan seperti sedang bersedih, dia murung, dia telah mengakibatkan Ko-Teng dihukum, akan tetapi dia tersenyum saat melihat dibuku bahasa Inggris milik Ko-Teng, terlihat tulisan Ko-Teng yang mengatakan “Shen Chia-Yi, kalo tidak so diam sebetulnya cukup manis juga” Shen Chia-Yi tertawa tipis saat melihat bacaan itu.
Keesokan harinya.
Ko-Teng terlihat sedang makan, lalu ada seseorang yang menusuknya memakai pulpen dari belakang, dia Shen Chia-Yi.
Ko-Ching Teng :          apaan?
Shen Chia Yi:              kemarin terimakasih
Ko-Ching Teng :          ngak apalah, lagian kulit mukaku tebal
Shen Chia Yi:              terimakasih
Ko-Ching Teng :          lebih baik kamu traktir aku minum dari pada kamu bilang terimakasih, aneh sekali
Shen Chia Yi:              boleh aku bertanya? kenapa kamu tidak belajar?
Ko-Ching Teng :          belajar kok,
tapi kalau aku belajar giat, kemampuanku terlalu hebat, sampai sampai aku sendiri pun takut. Hati-hati jika aku belajar. Aku pasti langsung mengalahkanmu
Lalu Ko-Teng pergi meninggalkan Shen Chia-Yi.
Saat pulang, Shen Chia-Yi memberikan soal untuk Ko-Teng kerjakan, tapi Ko-Teng sangat terlihat angkuh dan sombong dia memandang orang pintar itu bisa seenaknya menyuruh orang dan memandang rendah lain, tapi berbeda dengan pendapat Shen Chia-Yi.
Shen Chia Yi:              yang aku pandang rendah bukan orang yang nilainya jelek, yang aku pandang rendah adalah orang yang sendirinya tidak mau giat belajar, tapi merendahkan orang yang giat belajar.
Mendengar perkataan itu sedikit membuat Ko-Teng terdiam, baru kali ini orang yang katanya hebat ternyata ada orang yang bisa membuatnya terpaku, yaitu Shen Chia-Yi.

(gambar pada saat Shen Chia-Yi memberikan soal kepada Ko-Teng untuk dikerjakan)
Menurut cerita, Shen Chia-Yi hampir setiap hari memberi soal kepada Ko-Teng karena memang diperintah untuk membantu dia dalam belajar kata kepala sekolahnya.
Keesokan harinya, saat Ko-Teng baru datang ke kelasnya, Ko-Teng langsung menunduk tidur karena dia memang begitu, saat itu kembali ada yang menusuk dia dari belakang dengan menggunakan pulpen, wanita itu, Shen Chia-Yi. Shen Chia-Yi meminta soal yang kemarin dia berikan apakah sudah dijawab, ternyata ketika diperiksa banyak yang salah Ko-Teng tidak melihat buku panduan yang dipinjamkannya, Ko-Teng diminta mengoreksi pekerjaanya.


Ko-Ching Teng :          Belajar benar-benar menyebalkan.
Shen Chia-Yi:              Mangkanya, orang yang bisa belajar itu hebat.
Hari berikutnya juga tetap seperti itu, setiap kali Ko-Teng baru datang kedalam kelas dia selalu menunduk seperti ingin tidur, dan lagi-lagi ada yang menusuknya memakai pulpen dari belakang. Disaat itu teman-teman yang lainnya sedang bercanda disekitar mereka berdua. Shen Chia-Yi menagih soal matematika berikutnya yang telah diberikan kepada Ko-Teng, lalu ternyata lagi-lagi masih ada yang salah, Ko-Teng diminta mengoreksinya lagi 10 menit. Ada perkataan lucu yang keluar dari mulut Ko-Teng saat ia diminta mengoreksi hasil pekerjaanya. “untuk kepintaranku, 5 menit saja masih berlebih” semua teman yang berada disekitarnya langsung melihat kearahnya saat ia mengucapkan kata sombong nan konyol itu.            Haha :D

 Saat pengumuman nilai ulangan matematika, mata Ko-Teng sangat ambisius, matanya mengaharapkan sesuatu, dan pada saat namanya terpanggil, ternyata teman-teman semua mendengung kata salut kepadanya, Ko-Teng hanya tersenyum dan mengambil kertas ujiannya, (gue gatau berapa nilainya :D yang pasti kayanya gede aja). Lalu Bapak gurunya mengatakan “wah akhir-akhir ini lebih giat ya” Ko-Teng berjalan ke arahnya dan hanya berkata “tidak kok aku jenius” sambil tersenyum-senyum lalu kembali ke tempat duduknya. Dari belakang Shen Chia-Yi juga terlihat tersenyum, ia berkata:
 Shen Chia Yi:             jenius ya? Pandai sekali ngomong
Ko-Ching Teng :          (langsung melihat ke arah belakang) sebetulnya apalah hebatnya bisa mengerjakan ini. aku berani bertaruh, 10 tahun lagi walaupun aku tidak tahu apa itu “Log”, aku masih bisa hidup baik-baik.

Shen Chia Yi:              emmm...
Ko-Ching Teng :          kamu tidak percaya?
Shen Chia Yi:              percaya kok,
Ko-Ching Teng :          percaya lalu kenapa masih belajar giat?
Shen Chia Yi:              dalam kehidupan manusia memang banyak usaha yang tidak membuahkan hasil
Ko-Ching Teng :          kamu suka sekali menirukan orang dewasa bicara
Shen Chia Yi:              seperti kamu yang berkelakuan kekanak-kanakan seperti ini, terhadap kehidupanmu tidak ada gunanya
Ko-Ching Teng :          kamu kan belum pernah melakukannya, bagaimana bisa tahu?
Shen Chia Yi:              banyak hal yang tidak perlu dilakukan pun kita sudah tahu bahwa itu tidak ada gunanya.
(Ko-Teng sembari kembali menghadap kedepan dengan memperlihatkan wajah kekalahan)
Karena melihat prospek Ko-Teng yang terus meningkat, Shen Chia-Yi menyuruh Ko-Teng untuk tinggal disekolah hanya untuk belajar, karena Shen Chia-Yi bila tidak ada les dia memilih menginap disekolah, dan kali ini ia mengajak Ko-Teng, awalnya Ko-Teng menolak tapi saat ia tahu bahwa Shen Chia-Yi juga sama begitu tinggal disekolah, ia akhirnya mau, dan itu dilakukan setiap saat, sampai ia menginjak kelulusan. Saat suatu malam Ko-Teng tiba-tiba mengusili Shen Chia-Yi yang tengah belajar giat dan penuh keseriusan. Dari arah belakang Ko-Teng terus melirik Shen Chia-Yi yang tidak jauh dihadapannya. (Berikut percakapannya):
Ko-Ching Teng :          serius nih,
meskipun aku ganteng, cerdas, humoris, tapi kamu jangan gampang jatuh cinta terhadapku. Karena aku adalah seekor serigala kesepian ditengan angin...
Shen Chia Yi:              terimakasih, tapi aku tidak suka laki-laki yang lebih bodoh dari aku
(Shen Chia-Yi tidak melihat ke arah Ko-Teng yang ada dibelakangnya, dia menjawab asal dengan terus memperhatikan buku yang sedang dipelajarinya)
Ko-Ching Teng :          bodoh?
aku takut akan merebut juara satumu disekolah. Barulah aku menahan diri, membiarkanmu, sengaja kalah darimu!
Shen Chia Yi:              jangan sungkan-sungkan. Tolong deh jangan bersabar seperti itu
(masih tidak melihat ke belakang)
Ko-Ching Teng :          berani tidak kita taruhan? Taruhan..... rambut!
Shen Chia Yi:              bagaimana taruhannya? (menggerakan kepalanya, sediikit                                      mempertimbangkan)
Ko-Ching Teng :          kalau kamu menang dari aku di ujian bulanan, terserah kamu mau mengerjaiku apa saja. Tapi kalau aku menang, kamu harus ikat rambut selama sebulan.
Shen Chia Yi:              terserah sih, lagi pula tidak mungkin
Dengan kepercayaan diri yang selangit itu membuat Ko-Teng terpesona, ia sangat yakin akan mengalahkan Shen Chia-Yi di ujian bulanan.
(disini banyak segmen yang dipercepat, tapi adegan ini yang paling saya suka, disini ditunjukkan kedekatan Shen Chia-Yi dan Ko-Ching Teng yang semakin hari semakin dekat dan menyenangkan, disetiap harinya mereka belajar dengan tekun bersama-sama, disekolah ataupun ditaman, malam atau siang, seperti biasa Shen Chia-Yi sering menusuk Ko-Teng dengan pulpen diseragam bagian belakangnya, disinilah rasa itu muncul)



Pagi itu semua siswa sedang berkumpul dihadapan mading, hanya untuk melihat siapa yang lulus atau tidak lulus diujian bulanan, berbeda dengan Ko-Teng dia enggan seperti teman-temannya yang lain, karena ia sudah yakin lulus dan sangat yakin menjadi juara satu. Saat Shen Chia-Yi yang berada dipaling depan antrian itu melihat ke belakang, dan dia mengacungkan jarinya, jari telunjuk dan jari tengah ke arah Ko-Teng yang berdiri dibelakangnya seraya tersenyum, itu artinya Ko-Teng hanya meraih ditempat kedua dan Shen Chia-Yi menempati rangking pertama. Lalu dimalam harinya mereka berdua kembali tinggal disekolah untuk belajar, Ko-Teng mengerti ada yang mengganjal dihatinya, mengapa Shen Chia-Yi tidak menagih taruhan yang pernah disepakati, akan tetapi Ko-Teng seorang pria yang gentlemen, tanpa menunggu ia langsung pergi dari dalam kelas mengayuh sepedanya disaat cuaca dimalam itu sedang hujan, ia pergi ke tukang pangkas rambut hanya untuk dipotong rambutnya karena ia menerima kekalahan yang telah diterimanya dari Shen Chia-Yi.
Ko-Ching Teng :          bos, aku ingin potong gundul yang ganteng
Tukang salon:             dasar, mana ada potong gundul yang ganteng
Ko-Ching Teng :          ada ! kalau tidak percaya potong saja
Saat Ko-Teng kembali kedalam kelas, Shen Chia-Yi berbalik ke belakang, ia terkejut ketika Ko-Teng datang dengan rambutnya yang telah dipotong gundul (gundul ganteng hehe). Shen Chia-Yi lalu kembali menghadap kedepan dengan menutup mulutnya dan tertawa-tawa. Aku berhutang padamu, ucap Ko-Teng kepada Shen Chia-Yi.

(gambar gundul ganteng Ko-Teng)
Keesokan harinya, mereka berkumpul karena sedang jam istirahat mereka berlima berkumpul di area lapang, tiba-tiba saja pandangan mereka satu per satu melihat kearah kiri dengan sangat terpana mereka berlima seperti melihat seorang bidadari, benar saja, dia adalah Shen Chia-Yi, dia mengkiat rambutnya. Mereka berlima lalu memperdebatkannya dengan ucapan-ucapan bahwa mereka sangat menyukai gadis yang diikat rambutnya.
“aku tidak tahu mengapa Shen Chia-Yi mengikat rambutnya meskipun dia menang, tapi sejak saat itu. Aku merasa belajar giat ternyata menjadi sebuah hal yang sangat menyenangkan”. (ucapan Ko-Teng) 


Pada hari itu uang kas kelas sebagian hilang, dan salah satu guru (mungkin kalo kita menyebutnya guru pks kesiswaan) lalu guru itu menyangka, siapa lagi kalau bukan penghuni kelas disitu yang merasa pintar yang mengambilnya, guru itu menuduh salah seorang siswa telah mengambilnya dan orang itu berasal dari kelas itu juga, dan akhirnya tidak ada yang mengaku, lalu si bapak memerintahkan murid untuk mengambil kertas dan pena untuk menulis siapa yang menurut mereka semua yang telah mengambil uang itu, istilahnya memvoting. Tidak ada juga yang nurut guru itu marah besar. Tapiiiii
Dibelakang Tsao Kuo-Sheng berdiri dengan lagak pemberani.
Bapak Guru:                Tsao Kuo-Sheng, apa yang kamu lakukan?
Tsao Kuo-Sheng:         pak, bagaimana bisa, kamu menyuruh kita menuduh teman sekelas kita sendiri ?
Bapak Guru:                saya gurunya atau kamu gurunya ? (dengan sentakkan)
Ko-Ching Teng ikut berdiri.
Ko-Ching Teng:           anda adalah guru, tapi anda adalah sampah! (menyentak)
Bapak Guru:                apa kamu bilang? (menunjuk kearah kepala Ko-Teng)
Ko-Ching Teng:           aku bilang anda adalah sampah!
Bapak guru itu tiba-tiba mengangguk-nganggukan kepalanya.
Bapak Guru:                Ko-Ching Teng, Tsao Kuo-Sheng saya curiga kalian berdua pelakunya. berikan tas kalian padaku, kalian yang pertama aku periksa
Shen Chia-Yi tiba-tiba juga ikut berdiri... (semakin seru)
Shen Chia-Yi:              lapor pak, anda tidak boleh melakukan itu
Bapak Guru:                tidak boleh melakukan apa?
Shen Chia-Yi:              anda tidak boleh menyuruh kami voting,
tidak boleh menyuruh kami, untuk mencurigai teman kami sendiri,    paling-paling kita semua membayar uangnya sekali lagi juga tidak apa-apa.
Hu Chia Wei:               betul, kita membayar lagi juga tidak apa-apa (dia bicara hanya duduk)
Bapak Guru:                jangan berpikir karena prestasimu bagus, lalu bisa ngomong seenaknya, berikan tasmu (mengarah pada Shen Chia-Yi)
A-Ho:                           kami tidak mau (seraya berdiri, ikut-ikutan) kami bukan pencuri
Hsu Bo-Chun:              sampah ! (ikut berdiri juga bersama Liao Ying Hung )
Bapak Guru:                apa yang kamu katakan? (menunjuk kearah Hsu Bo-Chun)
Ko-Ching Teng:           sampah ! (menyentak dihadapan wajah Bapak Guru dengan kesal)
Bapak Guru:                berika tas kalian semua kepada saya !
Shen Chia-Yi:              tidak mau..
(diikuti dengan semua murid yang ikut berdiri menghadap sibapak yang so galak itu)
Ko-Ching Teng:           pak, saya curiga anda tidak punya kemaluan, keluarkan !
Bapak Guru:                apa kamu bilang ? (dengan kesal menunjuk kearah wajah Ko-Teng)
Ko-Ching Teng:           Keluarkan ! (dengan wajah emosinal kembali menyentak si bapak)
Bapak Guru:                berikan tasmu!!
Tsao Kuo-Sheng:         kalau mau ambil saja !! (dengan sangat keras Tsao Kuo-Sheng melemparkan tas miliknya tepat ke arah bapak guru itu yang berada didepannya, dan lemparan itu ternyata memacu semua teman-temannya untuk ikut melempari bapak itu dengan tas nya masing-masing).
Ceritanya mereka berenam yang dikejadian tadi menentang Bapak Guru itu dihukum, yaitu Ko-Ching Teng, Tsao Kuo-Sheng, Hsu Bo-Chun, Liao Ying Hung, A-Ho dan wanita itu Shen Chia-Yi.   Mereka berdua disuruh seperti ini :


Shen Chia-Yi menangis.
Shen Chia-Yi:              kalian jangan terus melihatku, aku merasa malu
Ko Ching-Teng:           sama sekali tidak memalukan kok, kamu sangat hebat (tersenyum)
Tsao Kuo Sheng:        jangan terlalu serius. Shen Chia-Yi, istirahat saja sedikit-sedikit. Asal-asalan saja, lagipula guru-guru tidak ada yang melihat kok,

Liao Ying Hung:          sesekali menjadi murid nakal kan enak juga
Shen Chia Yi:              sangat memalukan (seraya menangis)
Ko-Ching Teng :          sejak SMP sampai sekarang, barusan adalah satu-satunya hal yang aku merasa kamu lebih hebat dariku.
                                    Shen Chia-Yi, kamu benar-benar cantik, menagis pun juga cantik
Hsu Bo Chun:             iya betul, sangat cantik, (merengeh-rengeh sambil tersenyum)
A Ho:                           membuat orang melotot ingin melihat.
Dengan percakapan yang lucu itu pun bisa membuat Shen Chia-Yi kembali tertawa meski ia menangis ditengah kekecewaannya terhadap diri sendiri yang ikut-ikutan menentang pada kejadian tadi.
“tidak seperti tes, setiap soal yang rumit pasti ada jawabannya. Dalam kehidupan nyata, ada beberapa hal yang tidak ada jawabannya”
“sebetulnya siapa yang mencuri uang kas kelas,... tidak pernah ada yang tahu.. aku hanya ingat hari itu, Shen Chia-Yi sangat-sangat cantik”. (ucapan Ko Ching-Teng).
Ceritanya hari itu perpisahan siswa kelas 12, yang dimana itu adalah mereka. Shen-Chia-Yi dipersilahkan keatas panggung untuk mewakili semua teman-temannya karena dia adalah murid teladan lalu dia menyampaikan pesan dan kesannya.
“6 tahun yang lalu ketika memasuki sekolah Jing-Cheng kita semua baru berumur 12 tahun dan tidak tahu apa-apa. Meskipun angan-angan kita terhadap masa depan tak terbatas, tapi kita tidak tahu disini kita belajar apa dan mendapatkan apa, untunglah selama itu ada nasehat-nasehat para guru yang bijaksana, dan juga persahabatan yang erat dengan teman-teman. Bersama-sama melewati kesulitan, bersama-sama tumbuh dewasa. Bagiku sekolah Jing-Cheng adalah masa remajaku dan juga adalah pengalaman hidupku yang paling indah . Setelah lulus, marilah kita sekuat tenaga merentangkan sayap, terbang menggapai impian yang berbeda. Teman-temanku sekalian semoga kelak kita berjumpa lagi!
3 tahun sudah mereka lalui, banyak hal yang mereka lewati bersama-sama. Dan kisah mereka masih tetap berlajut hingga ke perguruan tinggi dimana Ko-Teng dan Shen Chia-Yi terpisah.
Setelah kelulusan...
“Akhirnya ujian masuk perguruan tinggi dimulai, bagiku UMPT sepertinya bukanlah ujian untuk masuk kuliah, tetapi untuk menunjukan hasil Shen Chia-Yi melatihku selama ini”
Tema musim panas kali ini adalah air laut yang asin.

Mereka bertujuh berkumpul seperti yang terlihat, dan mengucapkan harapan-harapan.



A Ho:                           setelah lulus, pernahkah kalian berpikir beriktunya ingin bagaimana?
Liao Ying Hung:          aku ingin bekerja di “Hsinchu Science and Industrial Park” dapat saham, untung banyak, lalu menikahi Shen Chia-Yi atau Hu Chia-Wei.
(tersenyum sambil tertawa ke arah Hu Chia-Wei)
Hu Chia-Wei:              siapa yang mau menikah denganmu
(diikuti senyuman-senyuman teman-teman yang lain).
Hsu Bo Chun:             aku ingin sekolah ke luar negeri
Tsao Kuo Sheng:        kamu keluar negeri buang-buang uang lah
Hsu Bo Chun:             sial kamu
A Ho:                           keluar negeri, aku juga ingin sekolah keluar negeri, daftar beasiswa belajar MBA  
Tsao Kuo Sheng:        aku ingin terus bermain basket, masuk tim sekolah, dan kemudian masuk NBA
Shen Chia Yi:              bagaimana dengan Hu Chia-Wei?    
Hu Chia-Wei:              aku ya, ingin menikah dengan orang kaya saja deh,
                                    bagaimana dengan Shen Chia-Yi?
Shen Chia Yi:              sebenarnya, aku terhadap masa depan masih tidak memiliki banyak angan-angan. (tersenyum tipis memandang langit sore).
Ko Teng melihat ke arah Shen Chia-Yi dengan mimik muka tanda tanya.
Hu Chia-Wei:              ada satu orang yang masih belum mengatakan
Shen Chia-Yi melihat ke arah Ko-Teng.
Ko- Ching Teng :         aku ingin menjadi orang yang hebat,
 
A Ho:                           itu sama saja dengan tidak mengatakan apa-apa
Liao Ying Hung:          orang hebat yang kamu maksud itu seperti apa?
Ko- Ching Teng :         membuat dunia ini berubah karena ada aku, meskipun hanya sedikit
(Shen Chia-Yi memperhatikan Ko Teng berbicara seperti itu, lalu Ko-Teng langsung menatap Shen Chia-Yi, karena malu Shen Chia-Yi mengalihkan pandangan dan tersenyum).
(Ko Teng melihat ke arah Shen Chia-Yi, tetapi karena malu Shen Chia Yi mengalihkan wajah, Ko Teng melanjutkan dalam hati “Dan kamu adalah satu-satunya orang yang akan membuat duniaku lebih baik”.
Mendadak, Shen Chia-Yi menelepon Ko-Ching Teng, dia menangis, karena dia tidak lulus ujian UMPT, dia bilang dia hanya bisa belajar dan belajar, tapi ujian masih tidak lulus, dia pun akhirnya kuliah di universitas taiwan of education dipilihan keduanya.

(gambar pada saat Ko-Teng mendatangi Shen Chia-Yi yang menelepon karena ia tidak lulus ujian UMPTN)
Melihat Shen Chia-Yi menjadi guru memang cocok untuk dia, begitulah kata Ko-Teng.

Disini Ko-Teng memberikan sesuatu kepada Shen Chia-Yi yang digambari sendiri olehnya, yaitu baju, baju bergambar Apel dengan tulisan You Are The Apple of My Eyes. Ada percakapan lucu disini.
Ko- Ching Teng :         Shen-Chia Yi, setelah kamu kuliah nanti, jangan biarkan laki-laki lain terlalu cepat mengejarmu yah,
Shen-Chia Yi :             kamu ngomong apa sih (tersenyum dan tersipu malu).
Ceritanya disitu mereka bertujuh berpisah, dan kini mulai memasuki jenjang universitas, ini kali pertama Ko-Teng belajar tanpa Shen Chia-Yi. Namun perpisahan itu tidak lantas membuat pengejaran Ko-Teng terhadap Shen Chia-Yi sirna, malah ini menjadikan sebuah pelajaran untuk mereka berdua. Karena jarak tercipta agar kita menghargai kehadiran rindu.
Itu pada saat tahun 1998, telepon genggam masih jarang yang punya, sehingga telepon yang berada di asrama tempat Ko-Teng tinggal pun selalu ramai mengantri-ngantri. Ko-Teng selalu menelepon Shen Chia-Yi hingga dia tertidur dan kadang uang makan Ko-Teng habis hanya untuk menelepon Shen Chia-Yi. (disalah satu waktu Ko-Teng mengatakan demikian di telepon, ia minta saat penyambutan mahasiswa baru, jika diadakan dansa, Shen Chia-Yi dilarang menghadirinya, Ko-Teng tidak mau ada yang menggandeng tangan gadis itu).
“Karena... walaupun aku belum berhasil mengejarmu, tapi bagaimana bisa aku memperbolehkan laki-laki lain yang belum pernah mengejarmu menggandeng tanganmu, aku sendiri saja belum pernah menggandeng.”


Akhirnya liburan saat natal tiba, Ko-Teng dan Shen Chia-Yi tampak bersama, sangat-sangat romantis dengan musim dingin sebagai temanya.
Percakapan kekanak-kanakan bodoh pertama Ko-Teng,
Ko Ching-Teng:           Hei, kita seperti ini, apakah bisa disebut pacaran?
Shen Chia-Yi:              mengapa tanya aku, (tersenyum malu)
Ko Ching-Teng:           Taipei dingin sekali ya (sambil menggesek-gesekkan tangannya)
Akhirnya Shen Chia-Yi memberikan sarung tangannya yang sebelah kiri kepada si Ko-Teng, yang dimana itu adalah salah satu kenangan yang terus disimpan Ko-Teng diakhir cerita.




(lihat itu sarung tangan yang diberikan Shen Chia-Yi pada Ko-Teng)
(sarung tangan berdesain apel)


Kebodohan, karena kekanak-kanakan Ko-Teng yang Kedua, saat mereka sedang berjalan disekujur rel kereta api yang terlihat seperti digambar berikut.

Shen-Chia Yi :             Ko Ching-Teng, apakah kamu benar-benar menyukaiku?
Ko-Ching Teng:           suka kok, suka sekali
Shen-Chia Yi :             aku berpikir sepertinya kamu menilaiku terlalu baik, aku sebetulnya tidak sebaik yang kamu pikir. Kamu suka aku... membuatku merasa sedikit aneh.
Ko-Ching Teng:           aneh apanya?
Shen-Chia Yi :             aku juga memiliki sisi yang tidak kamu tahu. Dirumah aku juga bisa ceroboh, emm... juga bisa emosi dan kadang karena hal kecil saja marah-marah terhadap adikku, aku benar-benar.... biasa saja
(matanya mengharapkan jawaban yang sesuai dengan harapannya, mengharapkan Ko Ching Teng berbicara sesuatu, mata yang butuh pengertian, sepertinya ingin sekali melihat ke belakang, namun Ko Teng tetap saja seperti orang bodoh, dia tidak tahu apa-apa, dia tidak tahu apa yang dimaksud Shen Chia-Yi)
Mungkin saja... yang kamu suka adalah, aku yang didalam imajinasimu saja
Ko-Ching Teng:           aku tidak seberapa bisa berimajinasi kok,
(sedikit tersenyum mendengar Ko Ching Teng yang mulai membuka suara meski tidak melihat ke arah Ko Ching Teng yang terus berjalan dibelakangnya)
Shen-Chia Yi :             dengar, kamu pikir yang serius, apakah kamu benar-benar menyukaiku?
Ko-Ching Teng:           suka kok,
(Shen Chia-Yi mulai melihat ke belakang, memperlihatkan wajah kekecewaan yang membuatnya kesal). Kamu kekanak-kanakan sekali, kamu belum berpikir serius, kalau sudah berpikir serius baru beritahu aku. (lantas pergi meninggalkan Ko Ching Teng yang berjalan dibelakangnya dengan wajah cemberut dan kecewa.
“Selama ini aku pikir aku adalah orang yang sangat penuh percaya diri, tapi saat itu aku baru tahu, bahwa didepan cewek yang aku suka, aku adalah seorang pengecut.”

Ko-Teng memikirkan sesuatu, dia takut apakah Shen Chia-Yi akan menolaknya.
Kebodohan Kekanak-kanakan Ko-Teng berikutnya

Shen Chia-Yi dan Ko-Teng kembali berdua untuk menuliskan kata-kata atau kalimat-kalimat yang akan diterbangkan keatas langit melalui balon udara, atau biasanya disebut harapan-harapan dan angan-angan yang terpendam akan dituliskan di balon itu yang akan menyampaikannya kepada Tuhan. Masing-masing tidak boleh tahu ia menuliskan apa.

Lalu pada saat akan melepaskan Ko-Teng mengatakan sesuatu:
Ko-Ching Teng:           Shen Chia-Yi, aku sangat menyukaimu, amat sangat menyukaimu. Suatu hari nanti aku akan mendapatkanmu, sepuluh juta persen, aku akan mendapatkanmu
Shen Chia-Yi:              apa kamu ingin tahu jawabannya? aku bisa memberitahumu sekarang
Ko-Ching  Teng:          tidak, aku tidak bertanya padamu, jadi kamu juga tidak boleh menolak aku.
(wajah Shen Chia-Yi tampak sedikit kecewa dan cemberut, padahal ia telah menuliskan sesuatu dibalon yang akan membuatnya lebih bahagia bila Ko-Teng menanyakannya)
Shen Chia-Yi:              kamu benar-benar tidak ingin tahu ?
Ko-Ching Teng:           tolong jangan beritahu aku sekarang.... biarkanlah aku tetap menyukaimu
Dan akhirnya dilepaskannya balon itu dengan sisa-sisa peninggalan kata-kata yang tidak diucapkan.
Selepas itu mereka terus bersama, bulan ke bulan, 3 tahun kuliah mereka lalui dengan didasari penungguan. Dan kembali kekanak-kanakan Ko Ching-Teng terlihat saat ia ingin memperlihatkan apa yang bisa membuat Shen Chia-Yi bangga terhadapnya, yaitu mengadakan turnamen tarung derajat atau boxer istilahnya, sebelumnya Shen Chia-Yi tidak setuju tapi keukeuh Ko-Teng tetap mengadakannya, membuat Shen Chia-Yi marah besar. Di tarung derajat itu pun Ko-Teng kalah dan tersenyum saat melihat Shen Chia-Yi hadir menonton, tetapi Shen Chia-Yi kesal dengan tingkah Ko-Teng yang sangat kekanak-kanakan. Ada pertengkaran hebat disini saat Shen Chia-Yi menunggu Ko-Teng didepan asrama ia tinggal. Suasana saat itu sedang hujan yang menambah ketegangan.
Shen Chia-Yi:              Ko Ching-Teng, kamu sengaja mengadakan turnamen seperti ini membuat dirimu terluka. Kenapa kamu kekanak-kanakan sekali?
Ko Ching-Teng:           Kekanak-kanakan ?
Shen Chia-Yi:              Ya, Kekanak-kanakan ! sangat kekanak-kanakan!?
aku tanya kamu, kamu mengadakan turnamen seperti ini, apa yang dapat kamu pelajari dari sana?
Ko Ching-Teng:           Pelajari ? kenapa mengerjakan sesuatu harus mempelajari sesuatu?
Shen Chia-Yi:              setidaknya kamu belajar bahwa turnamen seperti ini membuatmu terluka dan luka seperti ini sama sekali tidak perlu! Kamu benar-benar kekanak-kanakan, aku hanya bisa berkata kamu memang pantas terluka seperti itu!
Ko Ching-Teng:           aku kekanak-kanakan ? kamu tahu tidak turnamen kali ini bagiku adalah pengalaman yang luar biasa? bisa tidak kamu membiarkan aku senang?
Shen Chia-Yi:              apakah kamu akan mengadakan turnamen seperti ini lagi di kemudian hari?
Ko Ching-Teng:           tentu saja, mengapa tidak ?
Shen Chia-Yi:              kekanak-kanakan
Ko Ching-Teng:           kenapa kamu selalu melawan hal yang penting bagiku?
Shen Chia-Yi:              jadi hal yang penting bagimu adalah menyakiti dirimu sendiri?
Ko Ching-Teng:           Ya, memang benar! Aku memang kekanak-kanakan, baru bisa mengejar cewek serajin kamu! Aku memang kekanak-kanakan baru bisa mengejarmu selama ini.

Shen Chia-Yi:              Ya sudah kalau begitu jangan mengejar lagi
air mukanya seperti ingin menangis saat melantangkan suaru itu, lantas mendengar kata itu Ko-Ching Teng berjalan pergi ditengah hujan dengan wajah nampak kesal dan kecewa.
Shen Chia-Yi:              Bodoh (berjalan melihat Ko-Teng yang tengah beranjak pergi)
Ko-Ching teng:            ya memang, aku memang bodoh (berteriak)
Shen Chia-Yi:              tolol (kembali berteriak)
Ko-Ching Teng:           hanya orang tolol yang mengejarmu selama itu
Shen Chia-Yi:              kamu tidak mengerti apa-apa
Ko-Ching Teng:           Ya, aku memang tidak mengerti apa-apa.
“dalam pertumbuhan menuju dewasa, hal yang paling kejam adalah perempuan selamanya selalu lebih dewasa dari laki-laki seumurnya.
Kedewasaan seorang perempuan, tidak ada satupun laki-laki yang bisa menampungnya”.
Kabar pertengkaran hebat itu cepat terdengar oleh teman-teman Ko-Ching Teng yang lainnya, ini kesempatan untuk mereka merebut Shen Chia-Yi yang sudah tidak akur dan bersama lagi dengan Ko-Teng alias lepas dari pengejaran serigala kesepian.
Lao Tsau terlalu bersamangat, ia mengendarai sepeda motor dari Tainan ke Taipei, bersiap-siap untuk menembak Shen Chia-Yi. A-Ho membeli tiket kereta tercepat ke Taipei.
Kesimpulanya adalah..... kereta lebih cepat.
A-Ho:               meskipun kita selalu ada topik bicara, tapi aku dari awal sudah tahu, bahwa orang yang kamu suka adalah Ko-Teng. Yang tidak pernah bisa aku pelajari dari dia adalah, sifat kekanak-kanakan yang paling kamu benci, tapi setiap kali kamu memarahi Ko-Teng kekanak-kanakan... aku selalu cemburu. Karena sebetulnya setiap kali saat kamu memarahi dia kekanak-kanakan, kamu terlihat sangat cantik.
Shen Chia-Yi:  kenapa kamu mengatakan ini kepadaku?
A-Ho:               jika aku tidak melakukan apapun, kamu dan Ko-Teng akan berdamai cepat atau lambat, ya kan? (mulai memegang tangan Shen Chia-Yi).
A-Ho:               maaf, kali ini aku harus memanfaatkan kesempatan ini.
Lao Tsau telah sampai di depan gerbang tempat Shen Chia-Yi berkuliah, namun apalah daya, saat ia melihat di zebra croos terlihat A-Ho sedang menggandeng Shen Chia-Yi. Menyaksikan itu, Lau-Tsao langsung menyalakan lagi motornya, maju terus ia kecewa berat.
“Terhadap teman baik sendiri, ingin mengucapkan selamat pun terasa terpaksa”.
Putus cinta, Ko-Teng kehilangan Shen Chia-Yi, masa mudanya sama sekali tidak tersisa lagi ia rindu saat melihat orang-orang mengantri didepan telepon umum. A-Ho dan Shen Chia-Yi hanya bersama dalam waktu singkat yaitu 5 bulan saja. Tetapi itu juga sudah membuat Ko-Teng cukup iri.
Pada tahun 1999 terjadi gempa dashyat yang terjadi di Taipei, dan di Taipei adalah tempat Shen Chia-Yi tinggal, dengan keadaan Ko-Teng yang berada didalam ruangan dan sangat dipenuhi oleh orang-orang yang turut ingin menelepon untuk menghubungi saudara-saudaranya namun harus mencari sinyal, Ko-Teng segera keluar untuk mencari sinyal, ia berlari-lari ratusan meter hanya untuk mencari gelombang sinyal yang akan menghubungkan teleponnya dengan Shen Chia-Yi, ia sangat khawatir dengan Shen Chia-Yi, sudah lama berlari, akhirnya ditemukannya sinyal disuatu tempat. Ia langsung menelepon Shen Chia-Yi.
Shen Chia-Yi:              halo, Ko-Teng.. aku baik-baik saja tapi banyak sekali orang-orang dijalanan.
Ko-Ching Teng:           mengagetkan sekali, aku baru mendengar bahwa pusat gempa mungkin di Taipei, ada sebuah hotel roboh total. Yang paling penting... syukurlah kalau kamu baik-baik saja.
Shen Chia-Yi:              terimakasih
Ko-Ching Teng:           baiklah, kamu tidak apa-apa, kalau begitu aku...
Shen Chia-Yi:              aku benar-benar terharu, sungguh !
Ko-Ching Teng:           terharu kepalamu lah, kamu adalah wanita yang aku kejar selama bertahun-tahun, kalau kamu   hilang. Aku cari siapa untuk mengembalikan kenangan kita.
Shen Chia-Yi:              masih berani ngomong, 2 tahun ini kamu tidak pernah menelepon aku
Ko-Ching Teng:           eh, kamu yang tidak menelepon aku, masih berani ngomong.
                                     jadi apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini?
Shen Chia-Yi:              tidak ada, ya tetap saja sekolah dan belajar.
                                    kamu sendiri? Jangan bilang kamu sering bolos
Ko-Ching Teng:           tentu saja, aku sebetulnya kan memang tidak suka belajar, demi kamu aku baru mau belajar
Shen Chia-Yi:              wah, kamu pintar sekali ngomong
(Malam itu mereka membicarakan banyak sekali kenangan. Sangat banyak sekali hari-hari dimana Ko-Teng sangat rajin belajar hanya demi untuk mengejar Shen Chia-Yi).
Ko-Ching Teng:           umm...kamu sudah punya pacar?
Shen Chia-Yi:              mau tahu aja
                                    aku pernah jadian dengan A-Ho.
Ko-Ching Teng:           aku tahu kok dia bilang padaku,, tapi kemudian kenapa putus? aku pengen menanyakannya, tapi berpikir benar-benar kesal. apa dia tidak cukup baik bagimu?
Shen Chia-Yi:              tidak juga, aku hanya merasa dia tidak cukup menyukaiku.
Ko-Ching Teng:           A-Ho benar-benar menyukaimu!
Shen Chia-Yi:              karena pernah kamu sukai, aku jadi sulit untuk merasa orang lain benar-benar menyukaiku.
Ko-Ching Teng:           wow, se~mengharukan itu ya? (tersenyum)
Shen Chia-Yi:              kamu jangan merusak suasana yah sekarang...
Ko-Ching Teng:           Shen Chia-Yi, bolehkah aku bertanya?
                                    mengapa waktu itu kamu tidak mau menjadi pacarku?

Shen Chia-Yi:              sering mendengar orang berkata, bahwa. Dalam percintaan, masa paling romantis adalah masa-masa pendekatan. Pada saat sudah benar-benar jadian, banyak perasaan yang akan hilang sirna. Jadi aku berpikir, lebih baik aku membiarkanmu mengejarku lebih lama. Dari pada saat benar-benar sudah jadian jadi tidak romantis. Kalau begitu kan aku yang rugi.

Ko-Ching Teng:           sialan kamu yah..
                                    (sambil melihat ke langit)

                                    Shen Chia-Yi, apa kamu percaya dengan dimensi paralel?
(Dimensi dimana diri kita yang lain berada disana dan melakukan hal yang berbeda dari yang kita lakukan sekarang). 

Ko-Ching Teng:           Mungkin, di dimensi paralel itu, kita sekarang bersama.
Shen Chia-Yi:              benar-benar iri terhadap mereka yah, terimakasih karena kamu telah menyukaiku
Ko-Ching Teng:           aku juga suka. Pada diriku yang menyukaimu pada saat itu. Kamu selamanya adalah hal yang terindah dimataku.

Akhirnya ditahun-tahun itu Ko-Teng malah asik memainkan laptopnya dengan menulis cerita di internet atau bahasa sekarang ngeblog, disaat yang lainnya sedang sibuk belajar untuk ujian S2, kejadian ditelepon kemarin mungkin dianggapnya suatu perpisahan berikutnya.
“hidup adalah pertempuran yang tidak pernah berhenti”
Kabar dari teman-temannya terus berdatangan, ia senang saat mendengar rekan-rekannya telah sukses diluar sana, terutama Hu Chia-Wei yang pernah ia sindir, ternyata apa yang disindrikannya kini menjadi sesuatu yang berharga untuk perkembangan zaman.
“Jadi, orang yang bisa mewujudkan impian bukanlah selalu orang yang pintar, melainkan orang yang tidak pernah menyerah. Aku sangat senang bahwa aku salah” Ko-Teng—
Mendengar kabar dari Hsu Bo-Chun yang telah berhasil diluar negerinya, saat sedang memainkan laptopnya, ia kembali menerima sebuah telepon, kali ini manusia itu, Shen Chia-Yi.
Ko-Ching Teng:           Halo
Shen Chia-Yi:              Halo, teman lama sedang sibuk yah?
Ko-Ching Teng:           tentu saja sibuk
Shen Chia-Yi:              tidak peduli hal ini, kamu yang pertama ku beritahu
Ko-Ching Teng:           apaan? kalau ada waktu luang, kamu ingin aku mengejarmu lagi ya?
Shen Chia-Yi:              kali ini takutnya tidak bisa lagi
Ko-Ching Teng:           kenapa?

2005 ...

saat di resepsi pernikahan Shen Chia-Yi.
Hu Chia-Wei :             menyesalkan ! dulu aku gampang sekali dikejar, tapi kalian semua mengejar Shen Chia-Yi.
Liao Ying Hung:          kalau begitu aku mengejarmu sekarang masih belum terlambatkan?
Hu Chia-Wei :             dasar kamu ! (memukul Liao dan diikuti tawaan teman-temannya)
Hsu Bo-Chun:             sebenarnya, aku dulu tidak pernah serius mengejar Shen Chia-Yi.
Tsao Kuo-Sheng:        kenapa?
Hsu Bo-Chun:             tapi karena kalian semua mengejarnya, jadi aku juga ikut-ikut. Hihihihi (diikuti kekehan teman-temannya yang terpaksa tertawa). Dibandingkan denganku, aku merasa kalian benar-benar lebih tidak tahu malu. Shen Chia-Yi sekarang sudah menjadi milik orang lain, kalian ternyata masih punya keberanian datang ke pestanya, benar-benar bermuka tebal kalian.
Tsao Kuo-Sheng:        Hsu Bo-Chun, kamu cuma berceloteh saja, ayo minum.
A-Ho:                           setidaknya aku dulu juga pernah berhasil mengejar
Ko Ching-Teng:           itu bualanmu lah
Hsu Bo-Chun:             iya benar, bualan saja
Tsao Kuo-Sheng:        eh iya, mari kita taruhan, batu gunting kertas, yang terakhir kalah nanti. Sewaktu pengantin pria dan wanita masuk, dia harus menjegal pengantin pria. (semua teman-temannya tertawa)
Tsao Kuo-Sheng:        dia jahat sekali ! (diikuti tawaannya).
Hu Chia-Wei:              kalian semua, sama sekali tidak bisa mendoakan teman bahagia.
Ko Ching-Teng:           Eh, kamu tidak mengertilah, kalau kamu sangat menyukai seorang wanita, kamu akan tahu untuk benar-benar mendoakan dia bahagia menikah dengan orang lain adalah selamanya hal yang tidak mungkin            (sebelum Shen Chia-Yi keluar)

Hsu Bo-Chun:             iya betul, seperti kita yang sudah ditikam dari belakang ini barulah namanya cinta sejati.
Liao Ying Hung:          iya betul! Cinta sejati!
Semuanya Cherrs dan diikuti dengan teriakan “jegal dia” “jegal dia” “jegal dia”. Lalu lampu disekitar itu pun dimatikan, karena sang pengantin pria dan wanita akan datang dari pintu yang tadinya ditutup, dan ketika Shen Chia-Yi datang dengan pengantin prianya menuju pelaminan mereka menyaksikan dengan seksama dan penuh keharuan terutama pada Ko-Teng ia tersenyum.... pada saat semua orang yang didalam ruangan bertepuk tangan Ko-Teng mengikuti tepuk tangan tersebut walau matanya terus melihat kepada seseorang yang sedang menggandeng Shen Chia-Yi itu, ia tersenyum, terpana, walau hancur. Lalu ia berhenti menepukan tangannya menggantinya dengan melipatkan tangannya dan memperhatikan Shen Chia-Yi dengan ketulusan, kedewasaan. Shen Chia-Yi terlihat tersenyum kepada Ko-Teng meski sedikit langsung memalingkan wajah, dengan penuh ketulusan Ko-Teng membalas senyuman itu, yang dulu adalah miliknya.


“Aku salah...Ternyata, ketika kamu sangat-sangat menyukai seorang wanita, ketika ada orang yang mengasihinya, mencintainya.. maka kamu akan benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakan dia : bahagia selamanya...” (sesudah Shen Chia-Yi keluar).
Kembali menyatukan tangannya untuk bertepuk tangan kepada sang pengantin lalu berseri-seri saat akhirnya mereka menuju pelaminan.
Saat telah usai berfoto dengan pengantin.
Liao Ying Hung:          eh pengantin pria, bagaimana kalau kita berdiskusi?
Pengantin Pria:           diskusi apa?
Liao Ying Hung:          kami memberikan angpau sebanyak itu, kalau kami ingin mencium pengantin wanita, bolehkan?
Pengantin Pria:           umm... kalau pengantin wanita bilang boleh, ya boleh boleh saja
Shen Chia-Yi:              boleh (tersenyum)
Wwwwwwwaaaaaaaaaaaaaaaa yang lain kegirangan, namun ditahan oleh si pengantin pria.
Pengantin Pria:           tunggu ! mau mencium pengantin wanita boleh... tapi kalian mau mencium pengantin wanita seperti apa, kalian harus menciumku seperti itu juga terlebih dahulu, bagaimana? Begini baru adilkan
Hsu Bo Chun:             aku tidak pernah mendengar tamu ingin mencium pengantin wanita harus melewati halangan seperti ini dulu
A-Ho:                           iya benar,
Hsu Bo Chun:             kamu terlalu pelit
A-Ho:                           yang benar saja
Pengantin Pria:           kalau begitu ya sudah tidak bisa
Hu Chia-Wei               haa..haa.. kalian putuskan mau gimana
(saat semua kawan sudah kebingungan mau dillakuin atau menyerah, tiba-tiba Ko Ching Teng menyerobot bibir si pengantin pria hingga terbawa hingga kebelakang, demi cintanya kepada Shen Chia-Yi ia rela melakukan apa saja, terbukti demi mendapat izin mencium Shen Chia-Yi disaat teman-temanya merasa keberatan karena harus terlebih dahulu mencium si pengantin pria, lain halnya dengan Ko-Teng, ia tidak tahu malu dalam hal apapun demi apa yang dia inginkan, dia memang pria bergenre cinta sejati dan membuat Shen Chia-Yi tak kuasa melihat kerelaan pengorbanan Ko Ching-Teng dan tak kunjung membuat Shen Chia-Yi tertawa).

Disegmen ini semuanya melakukan flashback, kembali saat-saat dimana mereka bertengkar dikelas lalu diperlihatkan segmen-segmen tersembunyi yang menjadi kunci dalam perjalanan cerita, dimana pada saat Ko-Teng rela-rela dihukum karena memberikan bukunya kepada Shen Chia-Yi, ketika pertengkaran hebat, balon udara, pokoknya semuanya, tidak ada yang terlewatkan. Ada satu waktu pada segmen sesudah kelulusan, suara Shen Chia-Yi disensor saat berbicara kepada Hu Chia-Wei tentang apakah telah memutuskan untuk dengan siapa, tenyata disitu Shen Chia-Yi berbisik, “Kalau Ko Ching-Teng menyatakan perasaannya padaku, aku akan sangat senang”. 

Ko Ching-Teng: Maaf, memang aku yang terlalu kekanak-kanakan

Ko-Ching Teng :          sebetulnya apalah hebatnya bisa mengerjakan ini. aku berani bertaruh, 10 tahun lagi walaupun aku tidak tahu apa itu “Log”, aku masih bisa hidup baik-baik.
Shen Chia Yi:              emmm...
Ko-Ching Teng :          kamu tidak percaya?
Shen Chia Yi:              percaya kok,
Ko-Ching Teng :          percaya lalu kenapa masih belajar giat?
Shen Chia Yi:              dalam kehidupan manusia memang banyak usaha yang tidak membuahkan hasil

Shen Chia-Yi :             apa kamu ingin tahu jawabannya ?
Padahal dibalon itu, Shen Chia-Yi menuliskan “Baik, mari kita berdua pacaran”.

Shen Chia-Yi:              Benar-benar iti terhadap mereka ya, terimakasih karena kamu telah menyukaiku,

(setelah beres mencium, teman-temanya berlarian mencium si pengantin pria juga, dan Ko-Teng menghampiri Shen Chia-Yi)
Ko-Teng:                     kalau begitu, aku akan tetap kekanak-kanakan yah
Shen Chia-Yi:              iya, harus (tersenyum).

(Selamat Menempuh Hidup Baru, Masa Remajaku)

Duduk didepan, duduk dibelakang, ketika baju seragam seorang anak laki-laki mulai ada bercak tinta biru, sekali menoleh ke belakang, nampak senyuman dari seorang anak perempuan yang membawa jiwa anak laki-laki tersebut kedalam mimpi selama bertahun-tahun, terikat seumur hidup. Tahun itu, gadis yang sama-sama kami kejar.